password crack

mbah Surip, lirik lagu tak gendong

Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to Mendingan tak gendong ke
Enak to, mantep to Ke enak, mantep ke
Ayo.. Ayo .. Kemana… Kemana …

Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Enak tau Enak tau

Where are you going? Where are you going?
Ok I’m walking Ok I’m walking
Where are you going? Where are you going?
Ok my darling Ok my darling

Ha…Ha…Ha… Ha … ha … ha …

Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taksi kesasar Daripada kamu naik taksi kesasar
Mendingan tak gendong to Mendingan tak gendong ke
Enak to, mantep to Ke enak, mantep ke
Ayo.. Ayo .. Mau kemana Mau kemana

Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Enak tau Enak tau

Where are you going? Where are you going?
Ok I’m walking Ok I’m walking
Where are you going? Where are you going?
Ok my darling Ok my darling

Ha.. Ha .. Ha… Haaa… Haaa … ha …

Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana
Enak tau Enak tau
Ha.. Ha .. Ha… Ha …
Ha.. Ha .. Ha… Ha …
Ha.. Ha .. Ha…… Ha … …

Capek….. Capek … ..

Mari bergabung di Yayasan Baiturrahman Ancol

Yayasan Baiturrahman Jaya Ancol ( YBJA ) memberi kesempatan kepada Pemuda-Pemudi Islam untuk mengembangkan diri dan berkarir sebagai :

  1. Imam Masjid merangkap Khatib/Muballigh/Ustazh

Kualifikasi :

-. Pria, Sarjana (S1/LC), usia maksimal 30 tahun, Hafiz Al-Qur’an 30 juz, bisa Murottal

-. Diutamakan menguasai Bahasa Arab (aktif lisan-tulisan)

-. Menguasai Ilmu Dakwah / Tafsir-Hadis / Fiqih / Ilmu Sosial-Keagamaan lainnya

-. Aktivis Kegiatan Sosial-Keagamaan dan menguasai Management Organisasi Masjid

-. Kreatif dalam mengembangkan dan membina kegiatan sosial-keagamaan di lingkungan YBJA

-. Bersedia menjadi Imam rutin pada waktu Shalat Maghrib, Isya, Subuh dan Qiyamullail

-. Bersedia menjadi Relawan YBJA dengan segala ketentuan yang telah ditetapkan

  1. Staff Pengelola Yayasan

Kualifikasi :

-. Pria/Wanita, usia maksimal 30 tahun, lulusan S1/D3

-. Fasih baca-tulis Al-Qur’an

-. Diutamakan menguasai salah satu bahasa asing ( diutamakan Inggris / Arab )

-. Cakap mengoperasikan Komputer dan mempunyai kemampuan mobilitas

-. Berpengalaman dan aktif di organisasi Pendidikan / Ekonomi / Sosial-Kemasyarakatan

-. Memahami dan menguasai Managemant Operasional dan Administrasi Organisasi Yayasan

-. Kreatif dalam mengembangkan dan membina kegiatan sosial-keagamaan di lingkungan YBJA

-. Bersedia menjadi Relawan YBJA dengan segala ketentuan yang telah ditetapkan

  1. Staff Pengelola BMT ( Baitul Maal wat Tamwil )

Kualifikasi :

-. Pria/Wanita, usia maksimal 30 tahun, lulusan S1/D3

-. Fasih baca-tulis Al-Qur’an

-. Lebih diutamakan menguasai salah satu bahasa asing ( diutamakan Inggris / Arab )

-. Cakap mengoperasikan Komputer dan mempunyai kemampuan mobilitas

-. Berpengalaman dan aktif di organisasi Pendidikan / Ekonomi / Sosial-Kemasyarakatan

-. Memiliki jiwa Enterpreneur, diutamakan yang berpengalaman mengelola Usaha

-. Memahami dan menguasai Managemant Operasional dan Administrasi Organisasi Usaha

-. Lebih diutamakan berpengalaman kerja di BMT / Pengembangan Masyarakat (Community Development) lain

-. Kreatif dalam mengembangkan dan membina kegiatan sosial-keagamaan di lingkungan BMT

-. Bersedia menjadi Relawan BMT/YBJA dengan segala ketentuan yang telah ditetapkan

Jika Anda berminat dan memenuhi syarat, silakan kirimkan surat lamaran lengkap via Pos ke :

Yayasan Baiturrahman Jaya Ancol

Jl. Lodan Timur No.7 Komplek Taman Impian Jaya Ancol

Atau via email ke

baiturrahman@ancol.com atau zakat.ancol@gmail.com

Berkas diterima paling lambat s/d 15 Juli 2009. Cantumkan Jabatan dan Gaji yang diinginkan

setting email ponsel sony ericsson

1. Masuk Messaging – Email – Setting – Account Setting – New Account – Beri nama ‘Mail Yahoo’ – kemudian isi:
2. Email Addres: contoh@yahoo.co.id (Alamat Email Anda)
3. Connect Using: sesuai dengan nama koneksitas gprs Anda
4. Connection Type: pop3
5. Incoming server: pop.mail.yahoo.co.id
6. Username: contoh
7. Password: Isi password email Anda
8. Download: Header only
9. Check Interval: Off
10. Outgoing Server: smtp.mail.yahoo.co.id
11. Username: contoh
12. Password: Isi password Anda
13. Allow Connection: Home
14. Your Name: Isi nama Anda
15. Signature: Masukkan signature Anda
16. Copy Outgoing: Off
17. Encryrption: Incoming dan Outgoing pilih no encryption (bila ingin menggunakan secure connection pilih ssl, tp harus menginstal sertifikat dahulu)
18. Incoming port: 110 (jika pilih ssl: 995)
19. Outgoing: 25 (jika pilih ssl: 465)

Untuk Gmail

1. Masuk messaging – email – setting – account setting – new account – beri nama ‘Gmail’ – kemudian isi:
2. Email Addres:contoh@gmail.com (Alamat Email Anda)
3. Connect Using: sesuai dengan nama koneksitas gprs Anda
4. Connection Type: pop3
5. Incoming server: pop.gmail.com
6. Username: contoh@gmail.com (Isi lengkap dengan @gmail.com juga)
7. Password: Isi password email Anda
8. Download: Header only
9. Check Interval: Off
10. Outgoing Server: smtp.gmail.com
11. Username: contoh@gmail.com (Isi lengkap dengan @gmail.com juga)
12. Password: Isi password Anda
13. Allow Connection: Home
14. Your Name: Isi nama anda
15. Signature: Masukkan signature Anda
16. Copy Outgoing: Off
17. Encryrption: Incoming dan Outgoing pilih ssl
18. Incoming port: 995
19. Outgoing: 465

Jangan lupa untuk mengaktifkan fitur pop3 di yahoo.co.id ataupun gmail.

disalin dari :

http://blogponsel.blogspot.com/2009/01/setting-email-ponsel-sony-ericsson.html

Pengertian Subnetting, Netmask, Network ID, Default Gateway & Broadcast


Subnetting
Kita juga harus menguasai konsep subnetting untuk mendapatkan IP address baru, dimana dengan cara ini kita dapat membuat network ID baru dari suatu network yang kita miliki sebelumnya. Subnetting digunakan untuk memecah satu buah network menjadi beberapa network kecil.

Untuk memperbanyak network ID dari suatu network id yang sudah ada, dimana sebagaian host ID dikorbankan untuk digunakan dalam membuat ID tambahan

Ingat rumus untuk mencari banyak subnet adalah 2 n – 2
N = jumlah bit yang diselubungi

Dan rumus untuk mencari jumlah host per subnet adalah 2 m – 2
M = jumlah bit yang belum diselubungi


Contoh kasus dengan penyelesaian I :

Ip address 130.200.0.0 dengan subnet mask 255.255.224.0 yang diidentifikasi sebagai kelas B.

Subnet mask : 11111111.11111111.11100000.00000000
3 bit dari octet ke 3 telah digunakan , tingal 5 bit yang belum diselubungi maka banyak kelompok subnet yang bisa dipakai adalah kelipatan 2 5 = 32 (256 – 224 = 32)
32 64 96 128 160 192 224

Jadi Kelompok IP yang bisa digunakan dalah ;

130.200.0.0 – 130.200.31.254  subnet loopback
130.200.32.1 – 130.200.63.254
130.200.64.1 – 130.200.95.254
130.200.96.1 – 130.200.127.254
130.200.128.1 – 130.200.159.254
130.200.160.1 – 130.200.191.254
130.200.192.1 – 130.200.223.254

Contoh kasus dengan penyelesaian II :

Terdapat network id 130.200.0.0 dengan subnet 255.255.192.0 yang termasuk juga kelas B, cara lain untuk menyelesaikannya adalah ;

• Dari nilai octet pertama dan subnet yang diberikan, dapat diketahui IP address adalah kelas B yang octet ketiga diselubungi dengan angka 192…
• Hitung dengan rumus (4 oktet – angka yang diselubung) 256 – 192 = 64
• Jadi kelompok subnet yang dapat dipakai adalah kelipatan 64 dan 128.

Jadi kelompok ip yang dapat dipakai adalah
130.200.64.1 sampai 130.200.127.254
130.200.128.1 sampai 130.200.199.254

Kasus ;
Kita memiliki kelas B dengan network ID 130.200.0.0 dengan subnet mask 255.255.224.0

Dengan cara yang sama diatas sebelumnya ;
• Dari nilai octet pertama dan subnet yang diberikan dapat diketahui IP address adalah kelas B dengan octet ketiga terseluibung dengan angka 224
• Hitung dengan rumus (256-224) =32
• Jadi kelompok subnet yang dapat dipakai adalah kelipatan 32 yaitu 64 96 128 160 192

Dengan demikian, kelompok IP address yang dapat dipakai adalah ;
130.200.32.1 sampai 130.200.63.254
130.200.64.1 sampai 130.200.95.254
130.200.96.1 sampai 130.200.127.254
130.200.128.1 sampai 130.200.159.254
130.200.160.1 sampai 130.200.191.254
130.200.192.1 sampai 130.200.223.254

Kasus :

misalkan kita menggunakan kelas C dengan network address 192.168.81.0 dengan subnet mask 255.255.255.240, maka

• Dari nilai octet pertama dan subnet yang diberikan dapat diketahui IP address adalah kelas C dengan oktat ketiga terselubung dengan angka 240
• Hitung (256 – 240) = 16
• Maka kelompok subnet yang dapat digunakan adalah kelipatan 16, yaitu 16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224

Maka kelompok IP address yang dapat digunakan adalah ;

192.168.81.17 sampai 192.168.81.20
192.168.81.33 sampai 192.168.81.46
192.168.81.49 sampai 192.168.81.62
192.168.81.65 sampai 192.168.81.78
192.168.81.81 sampai 192.168.81.94
192.168.81.97 sampai 192.168.81.110
192.168.81.113 sampai 192.168.81.126
192.168.81.129 sampai 192.168.81.142
192.168.81.145 sampai 192.168.81.158
192.168.81.161 sampai 192.168.81.174
192.168.81.177 sampai 192.168.81.190
192.168.81.193 sampai 192.168.81.206
192.168.81.209 sampai 192.168.81.222
192.168.81.225 sampai 192.168.81.238

Kasus :

Sebuah perusahaan yang baru berkembang mempunyai banyak kantor cabang dan tiap kantor cabang mempunyai 255 workstation, network address yang tersedia adalah 164.10.0.0, buatlah subnet dengan jumlah subnet yang terbanyak

Penyelesaian ; 164.10.0.0 berada pada kelas B, berarti octet 3 dan 4 digunakan untuk host, sedangkan 1 kantor cabang ada 254 host, maka ambil 1 bit lagi dari octet ke 3 agar cukup.

Maka subnetmask yang baru
11111111.11111111.11111110.00000000
255. 255. 254. 0

Subnet yang tersedia adalah 256 – 254 = 2, maka subnetnya kelipatan 2 sampai dengan 254.

Jumlah subnet (2 7 – 2) = 128 – 2 = 26 subnet
Jumlah host / subnetnya (2 9 – 2 ) = 512 – 2 = 510 host

164.10.0.0 sampai 164.10.1.0  dibuang
164.10.2 .1 sampai 164.10.3.254
164.10.4.1 sampai 164.10.5.254
164.10.6.1 sampai 164.10.7.254
164.10.8.1 sampai 164.10.9.254
.
.
.
164.10.252.1 sampai 164.10.253.254

Kasus :

Kita mendapatkan IP dari ISP yaitu 192.168.20.0 untuk alamat network dan subnet masknya 255.255.255.192 ini berarti notasi /26.

Jumlah subnet adalah 192, berarti 11000000, maka 22 – 2 = 2
Berapa banyak host per subnet, 26 – 2 = 62 host
Hitung subnet yang valid 256 – 192 = 64 subnet, maka terus tambahkan block size sampai angka subnet mask. 64 + 64 = 128. 128 + 64 = 192, yang tidak valid karena ia adalah sebuah subnet mask. Maka subnet yang valid adalah 64 dan 128.

Subnet 64 128
Host pertama 65 129
Host terakhir 126 190
Alamat Broadcast 127 191

Cara membaca tabel diatas yaitu dari atas ke bawah untuk setiap kolom subnet, contoh: kolom pertama subnet 64 atau lengkapnya 192.168.20.64 memunyai host pertama 65 atau 192.168.20.65, host terakhir 126 atau 192.168.20.126 dan alamat broadcast di 127 atau 192.168.20.127.

Kasus

Kita mendapatkan IP dari ISP yaitu 192.168.10.0 untuk alamat network dan subnet masknya 255.255.255.224 ini berarti notasi /27.

Berapa jumlah subnet, 224 adalah 11100000, jadi 23-3 = 6
Berapa banyak host per subnet, 25 – 2 = 30 host
Hitung subnet yang valid 256 – 224 = 32
32 + 32 = 64
64 + 32 = 96
96 + 32 = 128
128 + 32 = 160
160 + 32 = 192
192 + 32 = 224
224 tidak valid karena ia adalah sebuah subnet mask. Maka subnet yang valid adalah
32, 64, 96,128,160,129,224

Subnet 32 64 96 128 160 192
Host pertama 33 65 97 129 161 193
Host terakhir 62 94 126 158 190 222
Alamat Broadcast 63 95 127 159 191 223

Cara membaca tabel diatas yaitu dari atas ke bawah untuk setiap kolom subnet, contoh: kolom pertama subnet 32 atau lengkapnya 192.168.10.32 memunyai host pertama 33 atau 192.168.10.33, host terakhir 62 atau 192.168.10.62 dan alamat broadcast di 63 atau 192.168.10.63.

Kasus kelas C

Kita mendapatkan IP dari ISP yaitu 192.168.10.0 untuk alamat network dan subnet masknya 255.255.255.224 ini berarti notasi /27.

Berapa jumlah subnet, 224 adalah 11100000, jadi 23-3 = 6
Berapa banyak host per subnet, 25 – 2 = 30 host
Hitung subnet yang valid 256 – 224 = 32
32 + 32 = 64
64 + 32 = 96
96 + 32 = 128
128 + 32 = 160
160 + 32 = 192
192 + 32 = 224
224 tidak valid karena ia adalah sebuah subnet mask. Maka subnet yang valid adalah
32, 64, 96,128,160,129,224

Subnet 32 64 96 128 160 192
Host pertama 33 65 97 129 161 193
Host terakhir 62 94 126 158 190 222
Alamat Broadcast 63 95 127 159 191 223

Cara membaca tabel diatas yaitu dari atas ke bawah untuk setiap kolom subnet, contoh: kolom pertama subnet 32 atau lengkapnya 192.168.10.32 memunyai host pertama 33 atau 192.168.10.33, host terakhir 62 atau 192.168.10.62 dan alamat broadcast di 63 atau 192.168.10.63.

Kasus :

Di sebuah perusahaan manufacturing yang mempunyai banyak bagian dalam perusahaan tersebut, dimana setiap bagian mempunyai 700 host, network address yang didapat adalah 171.168.10.0, berarti ini kelas B…perhatikan bagaimana jika kita menggunakan kelas C karena kelas C hanya dapat menampung host sebanyak 254 !!!

Classless Inter-Domain Rouitng (CIDR)

Suatu metode yang digunakan oleh ISP untuk mengalokasikan sejumlah alamat pada perusahaan, kerumah seorang pelanggan. ISP menyediakan ukuran blok (block size) tertentu.

Contoh : kita mendapatkan blok IP 192.168.32/28. notasi garis miring atau slash notation (/) berarti berapa bit yang bernilai 1 (contoh diatas adalah /28 berarti ada 28 bit yang bernilai 1).

Nilai maksimum setelah garing adala /32. karena satu byte adalah 8 bit dan terdapat 4 byte dalam sebuah alamat IP (4 x 8 = 32). Namun subnet mask terbesar tanpa melihar class alamatnya adalah hanya /30, karena harus menyimpan paling tidak dua buah bit sebagai bit dan host.

Nilai CIDR

255.0.0.0 /8
255.128.0.0 /9
255.192.0.0 /10
255.224.0.0 /11
255.240.0.0 /12
255.248.0.0 /13
255.252.0.0 /14
255.254.0.0 /15
255.255.0.0 /16
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255. 255.224.0 /19
255. 255.240.0 /20
255. 255.248.0 /21
255. 255.252.0 /22
255. 255.254.0 /23
255. 255.255.0 /24
255.255. 255.128 /25
255.255. 255.192 /26
255. 255. 255.224 /27
255. 255. 255.240 /28
255. 255. 255.248 /29
255. 255. 255.252 /30

Keterangan : pola yang dimaksudkan adalah pola 128, 192, 224, 240, 248, 252, dan 254
Dimana 128 dalam binary yaitu = 10000000 (1 bit subnet), 192 dalam binary yaitu 11000000 (2 bit binary) dan seterusnya. Maka hafalkan pola 128, 192, 224, 240, 248, 252 dan 254.

Contoh latihan subnetting : alamat class B

Alamat Network 172.16.0.0 dan subnet mask 255.255.192.0

Subnet 192 = 11000000, 2 2 – 2 = 2
Host 2 14 – 2 = 16.382 (6 bit di octet ketiga, dan 8 bit di octet keempat)
Subnet yang valid 256 – 192 = 64. 64 + 64 = 128

Subnet 64.0 128.0
Host pertama 64.1 128.1
Host terakhir 127.254 192.254
Broadcast 127.255 199.255

Keterangan, maka subnet 64.0 atau 172.16.64.0, mempunyai host pertama 64.1 atau 172.16.64.1 sampai dengan 171.16.127.254 dan alamat broadcastnya 172.16.127.255

Contoh latihan subnetting : alamat class A

Alamat Network 10.0.0.0 dan subnet mask 255.255.0.0

Subnet 255 = 11111111, 2 8 – 2 = 254
Host 2 16 – 2 = 65.534
Subnet yang valid 256 – 255 = 1, 2 , 3 dan seterusnya. (semua di octet kedua). Subnetnya menjadi 10.1.0.0, 10.2.0.0, 10.3.0.0 dan seterusnya sampai 10.254.0.0

Subnet 10.1.0.0 … 10.254.0.0
Host pertama 10.1.0.1 … 10.254.0.1
Host terakhir 10.1.255.254 … 10.254.255.254
Broadcast 10.1.255.255 … 10.254.255.255

NETMASK/SUBNETMASK

Untuk pengelompokan pengalamatan, selain nomor IP dikenal juga netmask atau subnetmask. Yang besarnya sama dengan nomor IP yaitu 32 bit. Ada tiga pengelompokan besar subnet mask yaitu dengan dikenal, yaitu 255.0.0.0 , 255.255.0.0 dan 255.0.0.0.
Pada dunia jaringan, subnetmask tersebut dikelompokkan yang disebut class dikenal tiga class yaitu :
1. Class A, adalah semua nomor IP yang mempunyai subnetmask 255.0.0.0
2. Class B, adalah semua nomor IP yang mempunyai subnetmask 255.255.0.0
3. Class C, adalah semua nomor IP yang mempunyai subnetmask 255.255.255.0

Gabungan antara IP dan Netmask inilah pengalamatan komputer dipakai. Kedua hal ini tidak bisa lepas. Jadi penulisan biasanya sbb :

IP : 202.95.151.129
Netmask : 255.255.255.0

Suatu nomor IP kita dengan nomor IP tetangga dianggap satu kelompok (satu jaringan) bila IP dan Netmask kita dikonversi jadi biner dan diANDkan, begitu juga nomor IP tetangga dan Netmask dikonversi jadi biner dan diANDkan, jika kedua hasilnya sama maka satu jaringan. Dan kita bisa berhubungan secara langsung.

Ketika kita berhubungan dengan komputer lain pada suatu jaringan, selain IP yang dibutuhkan adalah netmask. Misal kita pada IP 10.252.102.12 ingin berkirim data pada 10.252.102.135 bagaimana komputer kita memutuskan apakah ia berada pada satu jaringan atau lain jaringan? Maka yang dilakukan adalah mengecek dulu netmask komputer kita karena kombinasi IP dan netmask menentukan range jaringan kita.
Jika netmask kita 255.255.255.0 maka range terdiri dari atas semua IP yang memiliki 3 byte pertama yang sama. Misal jika IP saya 10.252.102.12 dan netmask saya 255.255.255.0 maka range jaringan saya adalah 10.252.102.0-10.252.102.255 sehingga kita bisa secara langsung berkomunukasi pada mesin yang diantara itu, jadi 10.252.102.135 berada pada jaringan yang sama yaitu 10.252.102 (lihat yang angka-angka tercetak tebal menunjukkan dalam satu jaringan karena semua sama).
Dalam suatu organisasi komersial biasanya terdiri dari beberapa bagian, misalnya bagian personalia/HRD, Marketing, Produksi, Keuangan, IT dsb. Setiap bagian di perusahaan tentunya mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Dengan beberapa alasan maka setiap bagian bisa dibuatkan jaringan lokal sendiri – sendiri dan antar bagian bisa pula digabungkan jaringannya dengan bagian yang lain.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan satu organisasi membutuhkan lebih dari satu jaringan lokal (LAN) agar dapat mencakup seluruh organisasi :
 Teknologi yang berbeda. Dalam suatu organisasi dimungkinkan menggunakan bermacam teknologi dalam jaringannya. Semisal teknologi ethernet akan mempunyai LAN yang berbeda dengan teknologi FDDI.
 Sebuah jaringan mungkin dibagi menjadi jaringan yang lebih kecil karena masalah performanasi. Sebuah LAN dengan 254 host akan memiliki performansi yang kurang baik dibandingkan dengan LAN yang hanya mempunyai 62 host. Semakin banyak host yang terhubung dalam satu media akan menurunkan performasi dari jaringan. Pemecahan yang paling sedherhana adalah memecah menjadi 2 LAN.
 Departemen tertentu membutuhkan keamanan khusus sehingga solusinya memecah menjadi jaringan sendiri.

Pembagian jaringan besar ke dalam jaringan yang kecil-kecil inilah yang disebut sebagai subnetting. Pemecehan menggunakan konsep subnetting. Membagi jaringan besar tunggal ke dalam sunet-subnet (sub-sub jaringan). Setiap subnet ditentukan dengan menggunakan subnet mask bersama-sama dengan no IP.

Pada subnetmask dalam biner, seluruh bit yang berhubungan dengan netID diset 1, sedangkan bit yang berhubungan dengan hostID diset 0.
Dalam subnetting, proses yang dilakukan ialah memakai sebagian bit hostID untuk membentuk subnetID. Dengan demikian jumlah bit yang digunakan untuk HostID menjadi lebih sedikit. Semakin panjang subnetID, jumlah subnet yang dibentuk semkain banyak, namun jumlah host dalam tiap subnet menjadi semakin sedikit.

Gambar pembentukan subnet

Cara Pembentukan Subnet :

Misal jika jaringan kita adalah 192.168.0.0 dalm kelas B (kelas B memberikan range 192.168.0.0 – 192.168.255.255). Ingat kelas B berarti 16 bit pertama menjadi NetID yang dalam satu jaringan tidak berubah (dalam hal ini adalah 192.168) dan bit selanjutya sebagai Host ID (yang merupakan nomor komputer yang terhubung ke dan setiap komputer mempunyai no unik mulai dari 0.0 – 255.255). Jadi netmasknya/subnetmasknya adalah 255.255.0.0
Kita dapat membagi alokasi jaringan diatas menjadi jaringan yang kebih kecil dengan cara mengubha subnet yang ada.
Ada dua pendekatan dalam melakukan pembentukan subnet yaitu :
1. Berdasarkan jumlah jaringan yang akan dibentuk
2. Berdasarkan jumlah host yang dibentuk dalam jaringan.

Cara perhitungan subnet berdasarkan jumlah jaringan yang dibutuhkan :

1. Menentukan jumlah jaringan yang dibutuhkan dan merubahnya menjadi biner.
Misalkan kita ingin membuat 255 jaringan kecil dari nomor jaringan yang sudah ditentukan. 255  11111111
2. Menghitung jumlah bit dari nomor 1. Dan jumlah bit inilah yang disebut sebagai subnetID
Dari 255  11111111  jumlah bitnya adalah 8
3. Jumlah bit hostID baru adalah HosiID lama dikurangi jumlah bit nomor 2.
Misal dari contoh diatas hostIDbaru: 16 bit – 8 bit = 8 bit.
4. Isi subnetID dengan 1 dan jumlahkan dengan NetIDLama.
Jadi NetID baru kita adalah NetIDlama + SubNetID :
 11111111.11111111.11111111.00000000 (24 bit bernilai 1 biasa ditulis /24)
Berkat perhitungan di atas maka kita mempunyai 256 jaringan baru yaitu :
192.168.0.xxx, 192.168.1.xxx, 192.168.2.xxx, 192.168.3.xxx hingga 192.168.255.xxx dengan netmash 255.255.255.0.
xxx  menunjukkan hostID antara 0-255
Biasa ditulis dengan 192.168.0/24  192.168.0 menunjukkan NetID dan 24 menunjukkan subnetmask (jumlah bit yang bernilai 1 di subnetmask).
Dengan teknik ini kita bisa mengalokasikan IP address kelas B menjadi sekian banyak jaringan yang berukuran sama.

Cara perhitungan subnet berdasarkan jumlah host adalah sebagai berikut :

1. Ubah IP dan netmask menjadi biner
IP : 192.168.1.0  11000000.10101000.00000000.00000000
Netmask : 255.255.255.0  11111111.11111111. 11111111.00000000
Panjang hostID kita adalah yang netmasknya semua 0  16 bit.
2. Memilih jumlah host terbanyak dalam suatu jaringan dan rubah menjadi biner.
Misal dalam jaringan kita membutuhkan host 25 maka menjadi 11001.
3. Hitung jumlah bit yang dibutuhkan angka biner pada nomor 1. Dan angka inilah nanti sebagai jumlah host dalam jaringan kita.
Jumlah host 25 menjadi biner 11001 dan jumlah bitnya adalah 5.
4. Rubah netmask jaringan kita dengan cara menyisakan angka 0 sebanyak jumlah perhitungan nomor 3.
Jadi netmasknya baru adalah 11111111.11111111.11111111.11100000
Identik dengan 255.255.255.224 jika didesimalkan.
Jadi netmask jaringan berubah dan yang awalnya hanya satu jaringan dengan range IP dari 1 -254 menjadi 8 jaringan, dengan setiap jaringan ada 30 host/komputer

Alokasi Range IP
1 192.168.1.0 – 192.168.1.31
2 192.168.1.32 – 192.168.1.63
3 192.168.1.64 – 192.168.1.95
4 192.168.1.96 – 192.168.1.127
5 192.168.1.128 – 192.168.1.159
6 192.168.1.160 – 192.168.1.191
7 192.168.1.192 – 192.168.1.223
8 192.168.1.224 – 192.168.1.255

Nomor IP awal dan akhir setiap subnet tidak bisa dipakai. Awal dipakai ID Jaringan (NetID) dan akhir sebagai broadcast.
Misal jaringan A 192.168.1.0 sebagai NetID dan 192.168.1.31 sebagai broadcast dan range IP yang bisa dipakai 192.168.1.1-192.168.1.30.

IP ADDRESS

Agar unik setiap computer yang terkoneksi ke Internet diberi alamat yang berbeda. Alamat ini supaya seragam seluruh dunia maka pemberian alamat IP address diseluruh dunia diberikan oleh badan internasional Internet Assigned Number Authority (IANA), dimana IANA hanya memberikan IP address Network ID nya saja sedangkan host ID diatur oleh pemilik IP address tersebut.
Contoh IP address untuk cisco.com adalah 202.93.35.9 untuk www.ilkom.unsri.ac.id dengan IP nya 202.39.35.9

Alamat yang unik terdiri dari 32 bit yang dibagi dalam 4 oktet (8 bit)

00000000 . 00000000 . 00000000 . 00000000
o 1 o 2 o 3 o 4

Ip address dibagi menjadi 2 bagian yaitu Network ID dan Host ID,
Network ID yang akan menentukan alamat dalam jaringan (network address), sedangkan Host ID menentukan alamat dari peralatan jaringan yang sifatnya unik untuk membedakan antara satu mesin dengan mesin lainnya.

Ibaratkan Network ID Nomor jalan dan alamat jalan sedangkan Host ID adalah nomor rumahnya

IP address dibagi menjadi kelas yaitu ;

Kelas yang umum digunakan adalah kelas A sampai dengan kelas C.

Pada setiap kelas angka pertama dengan angka terakhir tidak dianjurkan untuk digunakan karena sebagai valid host id, misalnya kelas A 0 dan 127, kelas B 128 dan 192, kelas C 191 dan 224. ini biasanya digunakan untuk loopback addresss.

Catatan :
• alamat Network ID dan Host ID tidak boleh semuanya 0 atau 1 karena jika semuanya angka biner 1 : 255.255.255.255 maka alamat tersebut disebut floaded broadcast
• alamat network, digunakan dalam routing untuk menunjukkan pengiriman paket remote network, contohnya 10.0.0.0, 172.16.0.0 dan 192.168.10.0

Dari gambar dibawah ini perhatikan kelas A menyediakan jumlah network yang paling sediikit namun menyediakan host id yang paling banyak dikarenakan hanya oktat pertama yang digunakan untuk alamat network bandingkan dengan kelas B dan C.

Untuk mempermudah dalam menentukan kelas mana IP yang kita lihat, perhatikan gambar dibawah ini. Pada saat kita menganalisa suatu alamat IP maka perhatikan octet 8 bit pertamanya.

Pada kelas A : 8 oktet pertama adalah alamat networknya, sedangkan sisanya 24 bits merupakan alamat untuk host yang bisa digunakan.
Jadi admin dapat membuat banyak sekali alamat untuk hostnya, dengan memperhatikan
2 24 – 2 = 16.777.214 host
N ; jumlah bit terakhir dari kelas A
(2) adalah alamat loopback

Pada kelas B : menggunakan 16 bit pertama untuk mengidentifikasikan network sebagai bagian dari address. Dua octet sisanya (16 bits) digunakan untuk alamat host

2 16 – 2 = 65.534

Pada kelas C : menggunakan 24 bit pertama untuk network dan 8 bits sisanya untuk alamat host.

2 8 – 2 = 254

Nomor IP terdiri dari 32 bit yang didalamnya terdapat bit untuk NETWORK ID (NetID) dan HOST ID (HostID). Secara garis besar berikut inilah pembagian kelas IP secara default

GATEWAY/ROUTER

Gateway adalah komputer yang memiliki minimal 2 buah network interface untuk menghubungkan 2 buah jaringan atau lebih. Di Internet suatu alamat bisa ditempuh lewat gateway-gateway yang memberikan jalan/rute ke arah mana yang harus dilalui supaya paket data sampai ke tujuan. Kebanyakan gateway menjalankan routing daemon (program yang meng-update secara dinamis tabel routing). Karena itu gateway juga biasanya berfungsi sebagai router. Gateway/router bisa berbentuk Router box seperti yang di produksi Cisco, 3COM, dll atau bisa juga berupa komputer yang menjalankan Network Operating System plus routing daemon. Misalkan PC yang dipasang Unix FreeBSD dan menjalankan program Routed atau Gated. Namun dalam pemakaian Natd, routing daemon tidak perlu dijalankan, jadi cukup dipasang gateway saja.
Karena gateway/router mengatur lalu lintas paket data antar jaringan, maka di dalamnya bisa dipasangi mekanisme pembatasan atau pengamanan (filtering) paket-paket data. Mekanisme ini disebut Firewall.
Sebenarnya Firewall adalah suatu program yang dijalankan di gateway/router yang bertugas memeriksa setiap paket data yang lewat kemudian membandingkannya dengan rule yang diterapkan dan akhirnya memutuskan apakah paket data tersebut boleh diteruskan atau ditolak. Tujuan dasarnya adalah sebagai security yang melindungi jaringan internal dari ancaman dari luar. Namun dalam tulisan ini Firewall digunakan sebagai basis untuk menjalankan Network Address Translation (NAT).
Dalam FreeBSD, program yang dijalankan sebagai Firewall adalah ipfw. Sebelum dapat menjalankan ipfw, kernel GENERIC harus dimodifikasi supaya mendukung fungsi firewall. Ipfw mengatur lalu lintas paket data berdasarkan IP asal, IP tujuan, nomor port, dan jenis protocol. Untuk menjalankan NAT, option IPDIVERT harus diaktifkan dalam kernel.

DIVERT (mekanisme diversi paket kernel)
Socket divert sebenarnya sama saja dengan socket IP biasa, kecuali bahwa socket divert bisa di bind ke port divert khusus lewat bind system call. IP address dalam bind tidak diperhatikan, hanya nomor port-nya yang diperhatikan. Sebuah socket divert yang dibind ke port divert akan menerima semua paket yang didiversikan pada port tersebut oleh mekanisme di kernel yang dijalankan oleh implementasi filtering dan program ipfw. Mekanisme ini yang dimanfaatkan nantinya oleh Network Address Translator.
Itulah beberapa bahasan awal yang akan mengantar kita ke pembahasan inti selanjutnya.

BROADCAST

Alamat ini digunakan untuk mengirim/menerima informasi yang harus diketahui oleh seluruh host yang ada pada suatu jaringan. Seperti diketahui, setiap paket IP memiliki header alamat tujuan berupa IP Address dari host yang akan dituju oleh paket tersebut. Dengan adanya alamat ini, maka hanya host tujuan saja yang memproses paket tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Bagaimana jika suatu host ingin mengirim paket kepada seluruh host yang ada pada jaringannya? Tidak efisien jika ia harus membuat replikasi paket sebanyak jumlah host tujuan. Pemakaian bandwidth/jalur akan meningkat dan beban kerja host pengirim bertambah, padahal isi paket-paket tersebut sama. Oleh karena itu, dibuat konsep broadcast address. Host cukup mengirim ke alamat broadcast, maka seluruh host yang ada pada network akan menerima paket tersebut. Konsekuensinya, seluruh host pada jaringan yang sama harus memiliki broadcast address yang sama dan alamat tersebut tidak boleh digunakan sebagai nomor IP untuk host tertentu.
Jadi, sebenarnya setiap host memiliki 2 alamat untuk menerima paket : pertama adalah nomor IP yang bersifat unik dan kedua adalah broadcast address pada jaringan tempat host tersebut berada. Broadcast address diperoleh dengan membuat seluruh bit host pada nomor IP menjadi 1. Jadi, untuk host dengan IP address 167.205.9.35 atau 167.205.240.2, broadcast addressnya adalah 167.205.255.255 (2 segmen terakhir dari IP Address tersebut dibuat berharga 11111111.11111111, sehingga secara desimal terbaca 255.255). Jenis informasi yang dibroadcast biasanya adalah informasi routing.

dikutip dari:

http://f4bregaz.blogspot.com/2008/08/pengertian-subnetting-network-id.html

Ten Reasons why Linux is really a Religion

After browsing through the amazing feedback in response to the many Linux articles on ITWire, I have come to a very clear conclusion – Linux is a religion.  Here’s a bunch of reasons why its so.Number 10: There are an amazing number of zealots for whom Linux can do no wrong.  As far as they are concerned, whatever Windows does, Linux does better.  Whether or not there is truth in each situation is totally irrelevant.

Number 9: Speaking in tongues.  Is there another explanation for this: tar -czvf eglinux.tar.gz *.txt

Number 8: So many different churches (distributions), so much in common.  Just as the Catholics, the Anglicans, Pentecostals and the Evangelicals are minor variations on a theme, so are Ubuntu, Suse, Knoppix and Fedora.

Number 7: Adherents of one body of religion almost never ‘change sides.’  Sure an Anglican might become a Pentecostal, but very rare is the Muslim that becomes Catholic.  Similarly, your average Linux devotee will happily move from church to church, will never cross to “the dark side” and join the Winfidels.

Number 6: Linux devotees read their bible (man pages) regularly.  How else can they know the names of all their prophets and how, specifically, to pray to them?

Number 5: Religion is a personal choice – one where the aficionado may take as much or as little as they choose.  With (at a least 313 according to my count of DistroWatch today) many variations on a theme, true-believers may make a specific choice, or become the founder of their very own church.  Try doing that with Windows.

Number 4: In the beginning was the image.iso, and the installer saw that it was good, but the image was without form in the void.  On the first day the installer separated the Linux from the Windows, and he saw that it was good.  On the second day, the installer created the file system and on the third, he separated the programs from the user data.  On the fourth day, the installer created the cron utility to separate the night from the day and to know the seasons.  Come the fifth day, the file system was commanded to teem with programs and eventually, on the sixth day the file system was made to bring forth users.  Not surprisingly on the final day, spare inodes were collected.

Number 3: Tithing.  When did any other OS ever ask you for money?  Note, spam doesn’t count!  There are two choices in the world of software – either pay up front or pay nothing and be nagged to “help the developers.”

Number 2: Step into any church on a Sunday morning – the place is filled with pasty-looking misfits.  Do you see a connection?

Number 1: We all bow down to the great Linus Torvalds.  Need I say more?

As I said, there would be a bonus set of five reasons why Windows is not a religion.

Looping a slide show using Openoffice

Because OpenOffice.org isn’t exactly like other office suites, treating it like other office suites can’t unleash its full potential. Unless you have a lot of time to explore OpenOffice.org’s features, you probably won’t discover all of them on your own. So we’ve compiled some OpenOffice.org tips and tricks that will help you move past the manual functions you’re used to and launch you into the full publishing potential of OpenOffice.org.

Overall Tips for all OpenOffice.org

Applications Like the common interfaces and functions in other office suites, the OpenOffice.org suite also has common interfaces and functions. Many of these functions make OpenOffice.org applications different from other office programs, but unless you know how to use them, chances are you won’t use them. Here’s how to take advantage of some of OpenOffice.org’s common features.

Use Templates

You can get by manually formatting every aspect of your OpenOffice.org creation, but if you often compose the same type of documents, you should take advantage of templates. OpenOffice.org templates don’t function exactly like other office suite templates. OpenOffice.org protects the default template so you can’t make changes to the default accidentally like you can in other office programs. You can use OpenOffice.org’s pre-programmed Auto Pilot templates to take advantage of common forms already programmed, or follow these steps to create a custom template:

  1. Format a document you wish to use as a template, or open a document you’ve already saved.
  2. Assign character, paragraph, page and frame styles using the Stylist. (See Open the Stylist below for more information on styles.)
  3. Delete any text you don’t want to appear in every document based on your template. (The styles you create remain even after deleting the text.)
  4. Select File | Templates | Save. (See Figure 1.) Don’t use File | Save As because this saves the template incorrectly and makes it hard to use in the future.
  5. Click the Organizer button.
  6. Select any folder but the Default folder.
  7. Right click and select New.
  8. Place your cursor in the Untitled folder name and change it to “My Templates.”
  9. Click Close.
  10. In the Categories box, select My Templates.
  11. Type a name for your template in the New Template field.
  12. Click OK.

Figure 1: To use templates properly in all the OpenOffice.org applications, you must save the template correctly by using File | Templates | Save. Don’t use file type Save As.

When you want to use your custom template, follow these steps:

  1. Select File | New | Templates and Documents.
  2. Double click the category to which you assigned your template (My Templates).
  3. Select your template name, and click Open.
  4. Begin creating your new document using the predefined styles and format in your custom template.
  5. Save the new document with a new name in the folder of your choice.

Creating a custom template might take a little more time the first time you create a new document, spreadsheet or presentation. But, you’ll quickly make up that time with the time you save on subsequent creations.

Open the Stylist

Another common feature among OpenOffice applications is the Stylist. (See Figure 2.) The Stylist is a floating window that can help you easily apply styles to every aspect of your document. You can manually format each aspect of your document, spreadsheet or presentation, but without using styles, you’re missing many of OpenOffice.org’s unique functions. When you apply styles, the OpenOffice.org Word Processor becomes more than a typewriter, OpenOffice.org Spreadsheet becomes more than just a calculator, and OpenOffice.org Presentation becomes more than just a slideshow. Follow these tips to open and use the Stylist:

Figure 2: The Stylist is a common feature among all OpenOffice.org programs. It gives you quick access to apply and modify all the styles available in your program, including paragraph, character, page, frame, numbering, cell and slide styles.

To open the Stylist window, select Format | Stylist, click the icon on the main toolbar, or press F11.

Once the Stylist is open, you can use it to apply or modify already set styles, create your own custom styles or quickly fill in formatting. The Stylist not only helps you format paragraphs, characters, cells and slides like the style settings in other office suites, but it also helps you create custom page and frame styles. By creating custom page and frame styles, you can be sure the formats of your pages are consistent and that your objects (usually graphics or text boxes that sit in a frame) are also consistent.

Follow these steps to easily create your own custom styles:

  1. Create a paragraph, cell, set of characters, slide, frame, page or ordered list manually formatted the way you want it to always appear.
  2. Select your formatted item.
  3. Click the New Style from Selection button in the Stylist window.
  4. Type a unique style name based on the description of the style. (For example, if you are creating a page style for the first page of a letter, name the page style “Letter Page1.”)
  5. Click OK.

Once you’ve created your style, you can use the Stylist to go back and modify or add formatting aspects to your style. To modify a set style, right click the selected style in the Stylist and select Modify. The window that appears gives you several options for modifying aspects of your style. (See Figure 3.) Some of the formatting tabs are not available when you manually format an item using the Format menu. Explore the options in this window to make your styles behave exactly as you want.

Figure 3: This dialog appears when you create or modify a style using the Stylist. It has formatting tabs with options not available when you manually format an item using the Format menu.

OpenOffice.org Word Processor Tips and Tricks

After you learn to use OpenOffice.org’s templates and styles, a new world of formatting possibilities opens, especially in the Word Processor. Below are a few littleknown tips and tricks to make your documents immediately publishable.

Automatically Update Headers

This trick only applies to longer documents that use headers and have several sections or chapters. But it will also help you learn how to add other important aspects to smaller documents. First, create a document that includes headers, is divided in sections with headings that you want to automatically update as a header, and you must have already applied a custom heading style to these section headings. Think of this tip as helping you create running heads for a long document.

  1. Select Tools | Outline Numbering. (See Figure 4.)
  2. Click the Numbering tab.
  3. In the Paragraph Style pulldown menu, select the paragraph style you have applied to the headings you want to automatically appear as headers. (If your headings are set as “Chapter Title,” select “Chapter Title.”)
  4. Click OK.
  5. Place your cursor in the heading area of a page with the page style that will include these headers.
  6. Select Insert | Fields | Other.
  7. Click the Document tab.
  8. In the Type box, select Chapter.
  9. In the Format box, select Chapter name.
  10. Click Insert.
  11. The text of your most recent heading will appear in the gray field. (See Figure 5.)
  12. As you continue to create the document, anything assigned that heading style in the main body of your document will appear in the header field.

Figure 4: Setting up Outline Numbering according to the custom heading styles you’ve created lets you automatically update document headers, create a Table of Contents and use the Navigator window to organize your document.

Figure 5: When you insert a field to display the Chapter name, the most recent heading with the style applied displays in the field. If you change the content of that heading, the field automatically changes as well.

When you set your own Outline Numbering by following the first four steps of this tip, you have also set up your document to automaticallly create Tables of Contents, to display heading levels in the OpenOffice.org Navigator, and to create other automatic fields such as bookmarks and cross references.

Turn Off AutoCompletion and other AutoCorrect and AutoFormat Features

Some features of OpenOffice.org’s Word Processor that are highly customizable are the default word completion, AutoCorrect and AutoFormat. Unfortunately, you can’t simply toggle a button or uncheck a menu command to turn off some of these features, such as word completion. Follow the steps below to customize these features:

  1. Select Tools | AutoCorrect/AutoFormat.
  2. Click the Word Completion tab. (See Figure 6.)
  3. Uncheck the Enable word completion box to turn off word completion, or change any of the other settings available, such as the keystroke used to accept word completion suggestions.
  4. Click OK.

Once you’ve discovered this dialog, you can explore the different tabs to change your AutoCorrect and AutoFormat preferences. If you ever want to go back to the default settings, click the Reset button. To quickly stop all AutoFormatting that occurs while you type, select Format | Auto Format | While Typing and make sure the check beside the menu option disappears.

Figure 6: To turn off the OpenOffice.org word completion feature, while still keeping other AutoCorrect options, select Tools | AutoCorrect/AutoFormat, click the Word Completion tab and uncheck the Enable word completion box.

Make Sure the Correct Bullets Transfer to Your MS Word Documents

One of the most appealing features of OpenOffice.org is its ability to export documents in several formats, including Microsoft Word, with little or no formatting lost. This makes OpenOffice.org a compatible word processor when you trade documents with colleagues that don’t use OpenOffice.org; however, some formatting, such as bullets, don’t transfer as well to Microsoft Word. This lack of continuity is simply because Microsoft uses MS Symbol for its bullets and OpenOffice.org uses StarSymbol. Instead of getting frustrated when you export a document with bullets into MS Word format, follow these steps to change your bullet format before you export.

  1. Open the Stylist window by selecting Format | Stylist or pressing F11.
  2. Click the Character Styles button to display all character styles.
  3. Right click Bullets and select Modify.
  4. Click the Font tab.
  5. Select a font in the Font field that you know both OpenOffice.org and Microsoft Word use, such as New Century Schoolbook. (See Figure 7.)
  6. Click OK.
  7. Place your cursor anywhere within the bulleted list.
  8. Right click and select Numbering/Bullets.
  9. Click the Options tab.
  10. Click the button next to Character.
  11. Scroll to select a font that you know both OpenOffice.org and Microsoft Word use, such as New Century Schoolbook.
  12. Click the bullet in the special characters dialog and click OK.
  13. Click OK again.
  14. Repeat steps 7 to 13 for all bulleted lists in your document.
  15. Your bulleted lists will now export with the same format in Microsoft Word.

Figure 7: Simply changing the default font used for bullets to one commonly available in both OpenOffice.org and Microsoft Word, such as New Century Schoolbook, can make bulleted lists created in OpenOffice.org transfer easily and completely to Microsoft Word format.

Note: Create a template containing your commonly used bullet lists by following these steps so you don’t have to change your bullet format each time you want to export your document to MS Word. Just use the bullet template you’ve created and the formatting changes are intact.

OpenOffice.Org Spreadsheet Tips and Tricks

Because OpenOffice.org Spreadsheet follows many of the same conventions as other spreadsheet programs, such as Microsoft Excel, there are fewer tips and tricks for Spreadsheet functions. In addition to taking advantage of the Stylist and templates, the following tips might be helpful:

Wrap Text in Cells

You can wrap text OpenOffice.org Spreadsheet cells once you know where to find the option. Follow the steps below to learn the trick to wrapping text within a spreadsheet cell:

  1. Select the cell or cells with the text you want to wrap.
  2. Right click and select Format Cells.
  3. Click the Alignment tab. (See Figure 8.)
  4. In the Properties area, check the Automatic line break box.
  5. Click OK.

Figure 8: Instead of trying to look for a Wrap Text option in OpenOffice.org Spreadsheet, check the Automatic line break box in the Alignment tab of the Format Cells dialog.

Print What You Want to Print

Like other spreadsheet progams that give you the option to choose to print a selection or just the active spreadsheet, OpenOffice.org Spreadsheet gives you the same options; they’re just found in a different dialog. To make your spreadsheets print the way you want, here are a few steps to help you set these options:

  1. To print only the active sheet:
  2. Select Tools | Options.
  3. In the left navigation tree, click the small “+” next to Spreadsheet to expand it.
  4. Click Print.
  5. Check Print only selected sheet. (See Figure 9.)

Figure 9: Because OpenOffice.org Spreadsheet’s print dialog does not give you the option to print only the active spreadsheet, you must activate the Print only selected sheet option by selecting Tools | Options, and then Spreadsheet | Print.

To define the cells you want to print in a specific sheet:

  1. Select the cells you want to print.
  2. Select Format | Print Range | Define.

You can also select Format | Print Range | Edit to manually set other options for the print range.

OpenOffice.org Presentation Tips and Tricks

OpenOffice.org Presentation includes many of the same functions of other presentation slideshow programs. But some of these functions are found on different dialogs in OpenOffice.org. Follow the steps below to perform some common Presentation functions:

Enter the Same Information on Every Presentation Slide

Many presentations need to have a consistent element, such as a logo or page number on every slide. Inserting information on each slide is easy once you understand the following trick:

  1. In the lower left-hand corner of your Presentations window are three buttons. Click the middle Master View button.
  2. Use the Drawing toolbar to enter text boxes, other objects or fields, such as page numbers.
  3. When you’re done entering the items that should appear on every page, click the Slide View button to the left of the Master View button.
  4. Each slide should contain the text or objects you just inserted in the Master view.

Loop a Slideshow

To set a slideshow to loop, or repeat itself, until you press escape in OpenOffice.org Presentation, take the following steps:

  1. Switch to Slide View by clicking the third button from the top on the righthand side of the Presentations window.
  2. Select all the slides in your presentation.
  3. Choose Automatic from the Transition field in the dynamic toolbar that appears at the top of the Slide View screen.
  4. Set the time between each slide using the time spinner next to the Transition field.
  5. Select Slideshow | Slideshow Settings.
  6. Under Type in the dialog that appears, choose Auto. (See Figure 10.)
  7. Set the time spinner to 0 for continuous viewing.
  8. Click OK.
  9. Start the slideshow by clicking the Start Slideshow button, the bottom button on the right-hand side of the Presentation window.
  10. The slideshow will loop continuously.
  11. Press Esc to stop the slideshow.

Figure 10: To finish setting up the looping slideshow, set the type of slideshow to Auto and the time spinner to 0 for continuous viewing.

Once you know many of the tips and tricks that make the OpenOffice.org applications behave similarly to (and in many cases better than) other office suites, you can begin truly using OpenOffice.org to replace your other office programs. It’s then that you’ll discover you are finally free to create your own office documents.

Jadwal Bus DAMRI ke Bandara Soekarno-Hatta

Bagi yang memerlukan jadwal dan lokasi Bus Damri bisa dilihat disini

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order (Bag.3)

Illuminati modern lahir di Bavaria pada tahun 1773, tiga tahun sebelum para tokoh Mason menandatangani piagam kemerdekaan Amerika Serikat. Sebelum Illuminati ‘lahir’, gerakan paganis bernama Freemasonry telah dahulu ada di Eropa dan berkembang dengan pesat di sana. Nyaris semua negara dan kerajaan di Eropa tersentuh oleh gerakan Freemason yang lahir di Skotlandia pada sekitar tahun 1314-an.

Para tetua pagan Yahudi seperti Rotschild melihat bahwa strategi mereka akan bisa lebih efektif dan cepat tercapai bila Illuminati dan Freemasonry bersatu. Sebab itu, pada tahun 1780, Baron Franz Friedrich Knigge direkrut menjadi anggota Illuminati dan dengan cepat menjadi salah satu tokoh penting Illuminati Eropa. Sebelumnya, Knigge ini merupakan salah satu tokoh sentral Freemasonry Eropa. Atas usahanya inilah, keduanya bias dipersatukan dan menjadi organisasi klandestine okultis yang begitu efektif, tidak saja di Eropa namun menggapai daratan Amerika dan lainnya.

Penyatuan Illuminati dan Freemasonry “diresmikan” dalam Kongres Wilhelmsbad pada 29 Agustus 1782 di mana Adam Weishaupt dan Knigge memimpin kongres tersebut. Semua yang hadir disumpah untuk tidak membocorkan kepada siapa pun, termasuk kepada anggota keluarga terdekat, apa saja yang terjadi dan diputuskan dalam pertemuan rahasia tersebut.

Comte de Vireu, seorang Masonik dari Lodge du Martinist di Lyons, Perancis Selatan—sebuah wilayah yang kental dengan nuansa Esoteris dan gerejanya memuja Yohanes sebagai Sang Kristus serta Maria Magdalena sebagai The Illuminatrix (Yang Tercerahkan), ikut hadir dalam Kongres di Wilhelmsbad. Sepulangnya dari acara, dia ditanya oleh isterinya tentang apa saja yang dibahas dalam pertemuan.

Terikat dengan sumpah setia, dan tentu saja ancamannya, Comte de Virieu hanya menyatakan bahwa apa yang terjadi dalam kongres sungguh-sungguh mengerikan. “Semua yang terjadi, adalah jauh lebih serius dari apa yang pernah kalian bayangkan selama ini. Konspirasi yang disusun telah benar-benar dirancang dengan sangat matang, sistematis, dan penuh dengan kejutan. Banyak orang penting terlibat dan tentunya dana yang disediakan juga tidak terbatas. Saya berkeyakinan, seluruh kerajaan dan gereja di Eropa ini tidak akan mampu membendung konspirasi tersebut. Ini benar-benar menakutkan, ” ungkapnya.

Atas desakan isterinya dan juga sejumlah kolega, akhirnya de Virieu menyatakan keluar dari perkumpulan.

Dengan sangat licin, Illuminati yang telah bersatu dengan Freemasonry terus bergerak. Mereka berada di belakang setiap revolusi, peperangan, dan peristiwa besar dunia. Nyaris semua pergantian penguasa di sejumlah negeri besar Eropa dan Amerika tidak lepas dari tangan kotor mereka.

Menundukkan Tiga Agama Besar

Satu hal yang jarang diketahui umum, gerakan paganis Yahudi yang juga disebut sebagai kaum Talmudian ini merupakan gerakan untuk menghancurkan semua agama langit. Taurat Musa mereka ganti dengan Talmud; Ajaran Nabi Isa a.s. dikotori dengan tangan Paulus, Yahudi dari Tarsus; dan ke dalam Islam mereka menyusupkan Abdullah bin Saba’, Yahudi dari Yaman yang mengaku-aku sebagai pembela keluarga Ali r.a. dan mengajarkan pengikutnya agar hanya mencintai Ali r.a. dan mengecam ketiga sahabat Nabi SAW lainnya seperti Abu Bakar r.a., Umar bin Khattab r.a., dan Ustman bin Affan r.a.

Mereka ini memiliki dendam kesumat terhadap Gereja yang telah menumpas para tetua mereka pada tahun 1307. Sebab itu mereka berupaya agar Gereja bisa ditundukkan dan menjadi pelayan kepentingan mereka. Salah satu bukti adalah surat balasan dari Rabi Yahudi di Konstantinopel kepada warga Yahudi yang tinggal di Arles, Perancis, yang menyatakan, “Jadilah kamu pemeluk Kristen, namun tetaplah pelihara Talmud di dalam hatimu. Agar kamu bisa menghancurkan mereka dari dalam…”

Konspirasi mereka tetap berjalan dengan penuh kerahasiaan. Satu persatu negeri-negeri besar jatuh dalam cengkeraman mereka. Dari daratan Eropa, mereka menjangkau Amerika, dan juga seluruh dunia. Sejarah dunia yang kita kenal sekarang merupakan hasil kerja mereka. Hanya saja, sejarah resmi tidak pernah mencatat bahwa semua ini merupakan hasil dari kerja keras mereka, karena industri penulisan dunia pun dimiliki oleh jaringan mereka.

Tulisan bagian empat akan membahas konspirasi mereka di abad ke-20, di mana mereka berusaha menaklukkan dunia lewat peperangan dan pendirian lembaga-lembaga internasional seperti PBB, World Bank, dan sejenisnya. Salah satu program PBB yang akan dibahas nanti adalah tentang Codex Alimentarius, sebuah program pengendalian populasi manusia di mana Rockefeller menjadi salah satu penggeraknya. (bersambung/rd)

sumber : eramuslim

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order (Bag.1)

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order (Bag.1)
Jumat, 8 Agu 08 09:27 WIB

Mungkin Anda akan terperanjat jika mengetahui fakta jika pemeluk agama terbanyak di dunia di abad millennium ini adalah kaum pagan, sebuah agama kuno yang diperangi para Nabi dan Rasul Utusan Allah SWT.

Salah satu indikasi hal tersebut adalah dipergunakannya simbol-simbol paganisme, dalam arsitektur rumah ibadah, lafadz doa, hymne atau kidung, ritual, dan sebagainya. Simbol salib misalnya, ini berasal dari simbol persilangan cahaya dewa matahari yang banyak dijadikan tuhan oleh suku-suku kuno dari Mesir (Ancien Egypt) dan Roma hingga Amerika Latin (Suku Maya dan Aztec), dari Jepun (Amaterasu) hingga India (Btara Indra).

Pastor Herbert W. Amstrong, pemimpin Worldwide Church of God yang berpusat di AS yang juga sebagai Editor in Chief majalah Kristen Plain Truth yang bertiras delapan juta eksemplar tiap bulan, dengan jujur mengemukakan bahwa tanda salib memang berasal dari simbol paganisme. Bukan itu saja, Natal yang diperingati oleh Gereja Barat setiap tanggal 25 Desember pun oleh Amstrong dianggap sebagai kelanjutan dari ritual penyembahan kelahiran anak Dewa Matahari (Sun of the God). Sebab itu, Sunday dijadikan hari libur kaum Kristiani. ‘Sun’ berarti ‘Matahari’ dan ‘Day’ berarti ‘Hari’. Ritual pemujaan kaum pagan terhadap Dewa Matahari memang banyak dilakukan di hari Minggu (Sunday).

Pemujaan terhadap Dewa Matahari ini juga bisa dilihat dari arsitektur kota suci Vatikan, pusat Gereja Katolik Barat, di mana sebuah tiang tinggi berdiri di pusat kota suci ini. Obelisk merupakan simbol phallus dan menjadi sentral dari ritual pemujaan terhadap Dewa Matahari. Obelisk ini berdiri di banyak kota dunia seperti Washington DC, Paris, dan juga… Jakarta! (Monas).

Lalu konsep Trinitas sendiri yang oleh kaum Kristiani dianggap sebagai konsep yang sakral juga berasal dari konsep paganisme kuno yang diwakili oleh Semiramis dan anaknya (Pagan Babylonia), Devka dan Khrisna (Pagan India), Isis dan Horus (Pagan Mesir), dan sebagainya.

Ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan setelah doa pun sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra).

Peradaban pagan kuno memang telah terkubur bersama peralihan zaman dan juga peperangan demi peperangan. Namun esensi dari kepercayaan banyak tuhan tersebut tidaklah pernah mati, bahkan di abad millennium ini kepercayaan kuno tersebut menjadi kepercayaan yang mendominasi umat manusia, tanpa banyak disadari. Simbol-simbol pagan menjadi simbol-simbol yang paling popular di dunia ini, dan mewarnai seluruh—SELURUH—institusi dunia seperti PBB dan sebagainya.

Bermula dari Iblis

Asal-muasal kaum pagan modern sekarang ini sesungguhnya berasal dari satu kelompok kecil para pengikut iblis (baca Eramuslim Digest edisi “Genesis of Zionism”), di mana sepanjang sejarah awalnya diwakili oleh mereka yang selalu memusuhi dan memerangi para Nabi dan Rasul Allah SWT. Mereka adalah Samiri yang memerangi Musa as. (Amerika pun menyebut dirinya dengan “Uncle Sam”), Namrudz yang memerangi Ibrahim a.s., dan para pendeta Sanhedrin yang memerangi Isa a.s.

Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat tauhid ini. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.

Strategi Hurgronje ini dikenal dengan istilah “Izharul Islam” atau “Pura-Pura Islam” dan sekarang dipakai oleh banyak kaum liberalis, termasuk mereka yang mengaku-aku sebagai kaum liberal Islam yang banyak mempromosikan ide-ide pluralisme (keberagaman), hak asasi manusia, anti kekerasan, kebebasan, dan sebagainya. Jika sekarang ini ada segolongan orang Islam yang mulai terjangkit virus “Pluralitas” maka hal itu sesungguhnya mereka telah tercemar oleh keyakinan pagan, karena seorang Muslim wajib “Fardhu’ain” hanya berpegang pada Tali Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dalam tulisan bagian dua, akan dipaparkan awal sejarah kelompok pagan modern di mana Adam Weishaupt, seorang Rabbi Yahudi yang berpura-pura menjadi Yesuit dan kemudian meninggalkan kelompoknya untuk kemudian menjadi pemimpin Illuminati, sebuah organisasi klandestin yang secara diam-diam menguasai perekonomian dan perpolitikan dunia saat ini. (bersambung/rd)
eramuslim.com